RSS

kisah sumiyati untuk “ulap doyo”

22 Mar

NAMANYA memang Sumiyati, tetapi wanita 46 tahun ini asli Dayak Benuaq. Ia lahir dan besar di pedalaman Kalimantan Timur, tetapi ketekunan dan totalitasnya pada kerajinan ulap doyo (kain tenun Dayak) telah mengantarkannya ke berbagai negara Asia dan Eropa. Dari ulap doyo juga, ibu empat orang anak yang kini bermukim di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, itu mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang penyelamatan lingkungan, Kalpataru (1993) dan Satya Lencana Pembangunan (2000).

Meski kondisi fisiknya tidak lagi fit karena digerogoti diabetes, Sumiyati tetap sumringah ketika diajak berbicara tentang ulap doyo. “Maaf Mas, lama menunggu. Saya ke rumah sakit. Kebetulan ada dokternya, lalu saya konsultasi sekalian,” katanya mengawali pembicaraan.

Mencari Sumiyati memang tidak mudah. Sesekali saja ia berada di rumahnya yang merangkap galeri kerajinan khas Dayak di Tenggarong. Kali lain ia berada di Sangatta (Kutai Timur), tetapi waktunya lebih banyak dihabiskan bersama para perajin ulap doyo di Tanjung Isui di pedalaman Kabupaten Kutai Barat.

“Saya selalu ingin dekat dengan mereka. Kalau ada hasil lebih dari usaha, saya selalu ingin menggunakan untuk mereka,” katanya tentang para perajin yang kini jumlahnya lebih dari 300 orang.

Meski merasa gembira karena se-karang perajin ulap doyo tidak lagi terbatas pada perempuan-perempuan tua, Sumiyati tetap prihatin karena para perajin sulit diajak maju. Mereka sering tidak menepati janji penyelesaian pekerjaan yang telah dipesan pembeli. Karena itu, Sumiyati sering menolak permintaan pesanan dalam jumlah besar. Padahal, saat ini ulap doyo sudah ia kembangkan menjadi berbagai produk yang tidak lagi terbatas pada sarung untuk pakaian adat, melainkan juga berbagai item untuk interior hotel.

***

SEJAK kecil Sumiyati sudah mengenal ulap doyo dalam bentuknya yang paling umum: sarung atau pakaian adat yang biasa dikenakan para penari atau tetua adat bila ada acara di kampungnya. Akan tetapi, ia lupa-lupa ingat bagaimana sarung kain dibuat.

Pada tahun 1971 banyak pejabat Kalimantan Timur (Kaltim) mengunjungi desanya. Melihat ulap doyo yang dipakai para penari dan tetua adat, Kepala Dinas Perindus-trian setempat sangat tertarik dan bertanya, masih adakah warga yang bisa membuatnya. Ternyata sudah tidak ada.

Sejak itulah, Sumiyati yang sudah punya dua anak tertarik menghidupkan kembali kerajinan sarung (ulap) tradisional berbahan baku serat daun doyo (Corgo linggo, sejenis perdu hutan) itu.

“Saya tanya, ibu masih ingatkah cara menenun? Tetapi saya malah dimarahi,” kata wanita tamatan SMP itu. Ia terus bertanya kepada setiap perempuan tua di kampungnya, dan mengumpulkan kembali “onderdil” alat tenun yang tersisa setelah lama tak terpakai.

Diperlukan waktu dua tahun untuk belajar membuat ulap doyo, dari mengambil serat yang awalnya sungguh tidak mudah, memintal serat menjadi benang, mewarnai benang, merakit alat tenun, sampai menenun. Hasil tenunan pertamanya sangat jelek dan menjadi bahan tertawaan. Itu membuat ibunya semakin tidak suka ia menenun yang dianggapnya tidak membawa manfaat. Namun, Sumiya-ti tidak menyerah.

Untuk memasarkan hasilnya, Sumiyati rela berkeliling Kota Samarin-da dan Tenggarong yang harus ditempuh dengan kapal semalaman. Bersandal jepit butut dan pakaian seadanya ala wanita pedalaman tahun 1970-an, ia keluar masuk pasar, kantor-kantor pemerintah dan swasta, serta ke kampung-kampung. Tidak jarang ia diusir para pegawai yang tak suka pada penampilannya yang ndeso.

Dari hasil berjualan ulap doyo, ia kemudian membeli berbagai barang kebutuhan pokok untuk warga pedalaman yang saat itu masih sangat terisolasi. Bukan keuntungan yang ia cari, tetapi lebih pada kepuasan batinnya dapat membantu meringankan beban warga pedalaman.

Ia merasa jenuh ketika usahanya mandek dan pemerintah terkesan tidak memperhatikannya. Ketika Bupati Kutai Awang Faizal (1979) menawarinya berpameran di Samarinda, semangatnya kembali menyala. Dalam pameran itu tidak banyak ulap doyo terjual. Untungnya, Bupati Awang Faizal memborong sisa dagangannya, bahkan memberinya uang Rp 80.000 untuk dagangan seharga Rp 35.000. Kata Sumiyati, “Saya sungguh terharu dan seolah mendapat kekuatan.”

Jalan mulai terbuka ketika dalam pameran di Balikpapan sejumlah barang dagangannya dibeli oleh pejabat di Humas Unocal Indonesia. Barang dagangan yang tersisa pun ia titipkan kepadanya untuk dijualkan.

Sejak itu namanya mulai dikenal luas sebagai satu-satunya perajin ulap doyo di Kaltim. Pameran demi pameran ia ikuti, dari skala lokal, nasional, sampai internasional. Perempuan-perempuan Dayak Benuaq yang semula menertawakannya pun kini mulai banyak yang merajin. Begitu juga anak-anak gadisnya. Katanya bangga, “Sekarang malah anak-anak sekolah juga banyak yang bekerja mengambil serat.” Jumlah perajin binaannya kini mencapai 360 orang, di luar tenaga anak-anak yang mengambil serat.

***

BERPAMERAN di mana-mana memperluas wawasan dan Sumiyati mengembangkan motif ulap doyo menjadi sangat bervariasi: ada gambar orang, pohon, bunga, dan juga polos. Produknya ia sesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Dari hotel-hotel, ia mendapat pesanan bahan untuk membuat kap lampu, sarung bantal, bed cover, dan hiasan dinding.

Ia bisa menyekolahkan dua anaknya sampai sarjana, namun secara ekonomis tak banyak yang dia dapat. Kepuasan batinlah yang sungguh tidak ternilai. Menuturkan kembali perjalanannya sebelum akhirnya menerima Kalpataru, misalnya, ia menitikkan air mata dan bergetar suaranya. “Saya melakukan semuanya dengan tulus untuk masyarakat sekitar saya. Membantu mereka yang kesusahan bagi saya sudah biasa. Anak-anak tidak bisa membayar sekolah, saya beri mereka pinjaman. Karena itu, ketika itu ditanyakan oleh bapak-bapak yang kemudian saya tahu dari Jakarta, saya sungguh tidak bisa menjawab,” tuturnya.

Keinginannya yang paling dalam adalah membuat perajin ulap doyo hidup maju dan sejahtera. Ia tahu hal itu tidak mudah. Para perajin melakukannya sebagai pekerjaan sambilan dan sering ingkar dari janji penyelesaian pekerjaan. “Upaya mempertahankan kebudayaan dan kerajinan tradisional memang harus dibantu pemerintah,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia menyesalkan minimnya perhatian dari pemerintah setempat terhadap upaya yang dilakukannya. Sejak menerima Satya Lencana Pembangunan, ia belum pernah diterima Gubernur Suwarna. Meski kebanyakan perajin ulap doyo bermukim di Kabupaten Kutai Barat, Sumiyati adalah warga Kabupaten Kutai Kartanegara. Dari kabupaten yang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya Rp 1,6 trilyun itu juga tidak ada bantuan.

***

BERANGKAT dari kerajinan tenun ulap doyo, Sumiyati mulai menempatkan budaya Dayak sebagai pilihan yang harus dikembangkan. Meski berasal dari Dayak Benuaq, ia terbuka pada semua budaya Dayak yang memang terasa semakin ditinggalkan masyarakatnya.

Sekarang, ia tengah “merayu” Bupati Kutai Timur Awang Faroek Ishak agar dibangunkan semacam sanggar bagi kesenian tradisional Dayak. Begitu juga dengan Pemerintah Kabu-paten Kutai Barat dan Kutai Karta-negara. Pulau Kumala yang akan dikembangkan menjadi pusat wisatanya Kabupaten Kutai Kartanegara adalah tempat yang ia anggap tepat, tetapi ternyata pemerintah kaya itu kurang berminat.

Mengenai ulap doyo, ia tengah mencari donatur yang bersedia bekerja sama membangun kebun doyo untuk pasokan bahan baku, sebab pasokan dari alam tidak bisa diandalkan untuk bertahan. Sumiyati memang sudah menganggap ulap doyo sebagai bagian dari hidupnya…. []

http://sosok.wordpress.com/2006/12/12/hidup-mati-sumiyati-untuk-ulap-doyo/

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2011 in seni kriya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: